Jumat, 30 Januari 2009

Bentara Sajak

MENGEJA BUNGKU

Kueja Bungku: rimbunan resam tiba-tiba menyerbu tujuh

penjuru

duaratus tujuhpuluh tubuh tak berbaju memamnhkan matanya

tepat di jantung

aku kian terperangkap dalam gigil

O peradaban, manakah sampai di pintu

ribuan kubu, asmat, sakai dan badui melangun

menyajikan bangkai sejarah

~Ciciplah!~ katamu

Ah, mustikah kusantap daging sendiri ?

Muara Bulian, 1418 H

2 komentar:

sawa (tukang sapu radio) mengatakan...

om... GPRS im3 wis normal maneh kok. Coba Pasang im 3 - ne.

aih...... mengatakan...

oi aku pengen tau yang namanya sastra kubu, soalnya aku masih bingung. penyairnya yang primitip (kubu) atau karyanya yang primitif.......


Harian Umum Pelita, 2003

Catatan “PENGHIANAT”
Yono. DL

oleh acep syahril

Menurut para ahli tasauf selain kalbu (hati yang bersih) menempati rongga jasad manusia, juga ada enam (6) jenis hati lain yang posisinya tak beraturan melingkari kedudukan kalbu.
Ke enam hati ini lazimnya disebut “nafsu” syrik, amarah (emosi), takabur, munafik, serakah dan hewani (nafsu kebinatangan. Yang seringkali tercermin pada tingkah laku dan sifat tabiat pemiliknya. Namun bisa pula menjadi tidak manusiawi ketika pemiliknya sudah tidak bisa membendung atau melulu mengikuti keinginan hawa nafsunya. Serta tidak pernah mau memberi kesempatan pada kalbunya untuk ikut merenungi segala perbuatan atau tindak tanduknya.
Sementara takabaur, khianat (munafik) serta syirik adalah kasus dominan yang menjadi penyakit dalam diri manusia, dan sedikit sekali diantaranya yang mau mengakui ketakaburan atau kebohongan serta khianat yang telah mereka lakukan.
Bertalian dengan itu beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman sebuah buku kumpulan puisi berjudul “Penghianat”, dari penyair asal Bangko, Jambi. Awalnya saya merasa bangga dengan buku tersebut sebab saya kira buku itu adalah suatu pengakuan penyairnya, atau paling tidak kumpulan puisi dengan sejumlah objek pelaku penghianat di negeri ini.
Ternyata dugaan saya keliru. Yono. DL pengirim buku kumpulan puisi tersebut rupanya cuma meminjam kata penghianat sebagai judul kumpulan puisi setebal 32 halaman, dengan jumlah puisi 24 buah itu. Dilengkapi komentar salah seorang penyair setempat, Asro Al-Murthawy, “Belum Juga Jadi Brutus Bung!”, demikian judul pengantarnya, diterbitkan awal Januari 2003, oleh Sanggar sastra IMAJI Bangko.
Secara tidak langsung Yono juga saya kira telah melakukan kebohongan terhadap saya, soalnya dari sejumlah puisi yang termuat di antologi itu nyaris tidak saya temukan adanya nuansa penghianatan tentang apapun, atau terhadap siapa pun. Bahkan dalam bentuk penulisan puisinya pun Yono tidak melakukan penghianatan terhadap kata, atau pada tradisi penulisan puisi umumnya, sebagaimana di singgung Asro Al-Murthawy dalam pengantarnya.
Namun dengan cermat saya baru bisa meraba apa yang dimaksud Yono. DL hingga memberi judul kumpulan puisinya, Penghianat. Selain judul tersebut sebagai salah satu judul puisi yang termuat di dalamnya. Di situ saya membaca adanya tendensi pengkambinghitaman nasib dan waktu dari petualangan hidup yang dia lakoni, sebagai absurditas objek yang cuma bisa dijamah oleh kekuatan rasa. Sehingga muncul pemberontakan batin, serta penyudutan terhadap situasi yang membuatnya kalah dan terasingkan. Seperti pada puisinya:

MALAM
Malam tak mampu lagi
menidurkanku
beribu peristiwa tenggelam
bersama masa lalu menjadikan
hidup terpenjara dalam
bingkai waktu yang tak
bersahabat

“Selalu ada kematian
disetiap perjumpaan.”

Malasm tak mampu lagi
ciptakan mimpi tentang
hasrat purbawi
berpasang-pasang jiwa
orgasme tanpa tanda
do’a atau pun iringan pengantin
………………
(Kumpulan Puisi Penghianat. hal. 22)
Barangkali inilah bentuk penghianatan yang dimaksud Yono. Tapi kalau pun itu benar, saya tegaskan dia masih belum berani menggiring ungkapan yang lebih tegas, karena keterbatasan ide atau bisa jadi wawasannya dalam hal ini.
Bahkan dalam puisinya bertajuk penghianat sekali pun, Yono baru sebatas membuat pernyataan, bahwa dia ingin jadi penghianat. Sementara cara pengungkapannya masih terkesan sopan dan mendayu-dayu.

PENGHIANAT

Kubulatkan tekad menjadi
penghianat menepikan segala
dosa membebaskan engkau dari
jepitan waktuku
terbanglah demi malamku
di sini terlanjur kuberjanji

(Kumpulan puisi Penghianat. Hal. 19)
Layaknya sebuah peringatan menjelang orgasme, saya bisa membayangkan betapa sakitnya hati istri tetangga saya jika dia diperlakukan sebagaimana sajak Rukmi Wisnu Wardani (Dani), (Bentara, Kompas, Jum’at, 6 September 2002).

Berhati-hatilah,
Hai kau para Betina! II
Berhati-hatilah, Hai kau para
betina!
ketika bokongmu tak lagi mampu
bangkitkan birahi mereka
apalagi ketika disamakannya
goyangan pinggulmu
dengan lambaian penutup alas
meja
lalu dimimpikannya seonggok
daging gempal
dibalik kain mbak’yu jamu
langganan bini mertuanya
siapa tahu,
diam-diam mereka remas
bantal peyok milik neneknya
Betapa tidak peringatan ini mampu memberikan suatu rangsangan fikir bagi pembacanya, yang secara psikologis berhasil menggiring imej kita pada sebuah kejujuran serta keberanian mengungkap perselingkuhan imajinasi seseorang pada saat bercinta.
Dan tentulah pula hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang hendak ditawarkan Yono. DL untuk menjadi seorang penghianat. Sementara dari seluruh puisinya juga sarat bahasa bisikan yang liris, sebagai ekspresi jiwa layaknya anak-anak muda yang tengah jatuh cinta. Tapi itu sah-sah saja untuk sebuah proses menuju pematangan kerja menyair.
Yono DL, dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 26 Januari 1979. Puisi dan Cerpennya kerap dimuat di harian Pelita, Harian Pagi Independent, Singgalang serta beberapa media lainnya. Kumpulan puisinya yang lain, “Kerangkeng Api Kerangkeng Rindu” (IMAJI, 1999), Silhuet (IMAJI, 2000), serta kumpulan puisi bersama “Nubuwah Kelahiran (IMAJI, 2001), dan “Tembang Padang Merangin” (IMAJI, 2002).
Selain menulis puisi dia juga ikut aktif menghidupkan kegiatan Dewan Kesenian Bangko, sembari melengkapi hidupnya di PT. Posindo Cab. Bangko.