This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Rabu, 04 Oktober 2017
Selasa, 21 April 2009
PUISI-PUISI
TAK MENGAPA MENJELMA SISIPUS
Sebuah Pengantar
Terkadang kitapun perlu menjelma
Narcissus. Merekontruksi jejak
setapak yang pernah dilintasi
membumbunnya jadi pilar-pilar kepercayaan diri
Tersebab serupa elang
alangkah sulit mengukur lebar kepak sayap sendiri
perjalanan tak melulu dihitung dengan bentang jarak waktu
tapi juga oleh banyaknya prasasti luka-luka kita
: Sajak yang serak dalam EQUALIBRIUM RETAK
Terkadang kitapun perlu menjelma
sisipus. Mengulang dakian
setiap puncak keluasan
semesta. jatuh bangun adalah irama kasidah
memetiki bintang-bintang.
Tersebab serupa kunang-kunang
alangkah sulitnya merangkum cahaya
dalam gelap pekat malam, lalu menghimpun
kerlipnya jadikan suar
: Kita pernah ada !
Asro al Murthawy
K U B U K A B U K U L U K A K U B U K U
Kubuka bukubuku, kubuka
terbaca lukalukaku
terluka tubuhtubuhku terluka
menganga lukalukaku menganga
luka di tubuhtubuh, lukaku
duka di bukubuku, dukaku
kubu di bukubuku, tubuhku
Buku Kubu, bukuku
Luka Kubu, lukaku
Duka Kubu, Dukaku
Sanggar IMAJI Bangko, 1418 H
MANA KUAUKU, MAK ?
“Mano kuauku, Mak?”
Maak ! Beribu kuau mati diburu, beribu lirung mati dikurung
beribu jalak mati ditembak beribu belibis mati habis
“Mano napuhku, Mak?”
Maak ! Beribu napuh mati dipupuh, beribu babi mati
dibasmi, beribu kijang mati dicincang, beribu rusa mati
binasa
“Mano tampoiku, Mak?”
Maak ! Beribu tampoi mati dibantai, beribu cempedak mati
dibajak, beribu embacang ditebang, beribu bidara mati
sengsara
“Mano kuauku, Mak ? Mano napuhku, Mak? Mano
tampoiku, Mak ?
Beribu Kubu serak berteriak, beribu Kubu sendu tergugu
Dusun Tuo Siau, 1418 H
Jumat, 30 Januari 2009
Bentara Sajak
MENGEJA BUNGKU
Kueja Bungku: rimbunan resam tiba-tiba menyerbu tujuh
penjuru
duaratus tujuhpuluh tubuh tak berbaju memamnhkan matanya
tepat di jantung
aku kian terperangkap dalam gigil
O peradaban, manakah sampai di pintu
ribuan kubu, asmat,
menyajikan bangkai sejarah
~Ciciplah!~ katamu
Ah, mustikah kusantap daging sendiri ?
Muara Bulian, 1418 H











